CERPEN Q

-->
Fajar menyingsing di ufuk timur. Hadirkan kehangatan pagi pada angkasa biru muda. Mengintip di sana, sang mentari bersiap terjaga. Dingin menyeruak di antara kejemuan hari. Menusuk tulang. Seolah membekukan aliran darah Rea, kini ia enggan beranjak dari singgasana tempatnya melelapkan waktu. Di pangkuan Rea sejuta asa menjuntai menembus awan. Menunggu sang empunya menancapkan cerita pada kenyataan.
Kring….kring…. Jam beker Rea yang semenjak semalam tadi membisu, tiba-tiba menggemparkan seisi kamar bercat warna orange itu. Mengaburkan jalinan mimpi yang dirajutnya berjam-jam lalu.
"Huhhh … berisik banget sih!!" kata Rea dengan kesal, sedetik kemudian ia menutup telinga. Tangan Rea menggapai-gapai meja mencari sumber kebisingan yang mengganggu lelap tidurnya. Belum juga Rea menemukan jam itu, tangannya sudah menyambar HP kesayangannya yang memang kurang beruntung ada di samping jam beker itu.
Sreekk …. Brakk… Pyarr… Sebuah telepon genggam, yang harganya lumayan mahal untuk kantong pelajar seperti Rea, harus jatuh teronggok tak berdaya di lantai kamarnya. Cashing-nya terlepas dan berantakan tak karuan. Sungguh HP yang malang. Agak tak sebanding dengan tetesan keringat yang dikorbankannya untuk HP itu. Mengingat kerja keras Rea mendapatkan HP itu, ia rela mengumpulkan uang dengan menabung setiap minggu. Berpuasa saat istirahat sekolah untuk menyisihkan uang saku sebagai tambahan dana membeli HP. Lalu jadi penonton setia sahabat-sahabatnya yang dengan lahap menikmati makanan di kantin sekolah pun dilakukannya. Atau saat ia lebih memilih bertapa di rumah dan mengabaikan ajakan kakaknya untuk nonton atau belanja ini itu di mall dengan maksud menggunakan uang dengan bijak.
Kali ini kelopak mata Rea terbelalak. Setelah lima menit lalu matanya seperti nyala lampu berdaya 5 Watt yang sedang menunggu detik-detik terakhir sebelum sang lampu siap pensiun dan purna tugas. Rea akhirnya terbangun. Sayu pancaran matanya menyapu seluruh sudut ruangan itu. Serpihan cashing telepon genggam berwarna orange mencolok yang berserakan di lantai menarik perhatian Rea. Otaknya bekerja mencoba mencerna apa gerangan yang terjadi. Ditatapnya dalam-dalam benda itu sebelum akhirnya ia menjerit histeris.
"HWA…!!!!" teriak Rea spontan. Kaget. Panik. Shock stadium ringan pun menderanya. Langsung saja ia melompat dari atas tempat tidur. Tak dapat digambarkan betapa air muka Rea tampak begitu cemas.
"Aduh, gimana neh. Rusak lagi deh HP gue." kata Rea penuh penyesalan. Bukan kali ini saja ia melakukan kecerobohan. Setelah dihitung-hitung, ini kali ketiga Rea menjatuhkan HP itu. Untunglah tak rusak terlalu parah.
"Ya udah lah mau gimana lagi. Dah jatuh ini. . ." suara Rea parau. Ia membesarkan hatinya sendiri. Meskipun begitu, tampak pula segores kekesalan pada dirinya sendiri yang kadang-kadang ceroboh dalam bertindak. Sulit untuk menghilangkan sisi negatif Rea yang satu ini. Seperti sudah mendarah daging dan mengakar dalam kesehariannya. Ia pun akhirnya hanya pasrah dan menyerahkannya pada garis kehidupan. Pagi yang cukup berantakan untuk Rea mengawali hari. Tapi sepertinya ia berusaha menepiskan kejadian pagi itu. Tak terasa jam telah menunjuk angka enam. Rea bersiap berangkat ke sekolah. Sebelum berangkat ia diwajibkan sarapan dan berpamitan. Kebiasaan ini sudah dijalaninya sejak duduk di bangku SD hingga sekarang. Dan tak pernah ditinggalkannya jika tidak dalam keadaan yang sangat mendesak. Rea memang anak yang patuh terhadap kedua orang tuanya.
Rea, gadis belasan tahun yang sekarang mengenyam pendidikan di bangku salah satu SMA ternama di kotanya, SMA Tunas Bangsa. Gadis manis dengan segudang prestasi bidang akademik dan beberapa di bidang non akademik. Tercatat sebagai pengurus OSIS di sekolahnya dan terhitung aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemanusiaan. Sebagian gambaran lain dari sosok Andrea Putri Kusumaningrum atau lebih sering dipanggil Rea.
* * *
"Rea, tungguin dong …" teriak Lany dari kejauhan. Sambil berlari kecil ia menyusul sahabatnya itu. Rea menengok ke belakang dan melambaikan tangan dengan anggun, bak Miss Univers yang bertemu penggemarnya.
"Oke." sahut Rea kemudian. Senyumnya mengembang. Roman muka Rea berbinar, memancarkan satu keceriaan yang tulus. Seolah lupa akan nasib HP kesayangannya yang tertimpa kemalangan tadi pagi. Mereka berpelukan. Saling melepas rindu. Memang tiga hari ini sekolah diliburkan karena digunakan untuk ujian. Dan selama tiga hari itu mereka tak berjumpa. Lany mengunjungi neneknya di luar kota, sementara Rea sibuk dengan tugas khusus dari sekolah untuk menyelesaikan sebuah karya tulis ilmiah yang diajukan dalam lomba.
"Gue kangen neh sama elo Re…" kata Lany hangat. Kemudian merangkul pundak sahabatnya itu sambil berjalan menyusuri lorong sekolah.
"Iya, gue tahu. Gue kan orangnya emang pada dikangenin" jawab Rea penuh percaya diri. Lalu tersenyum kecil menggoda Lany.
"Yee… bisa-bisanya elo aja Re" dengan nada menyindir. Lalu mereka tertawa bersama. Kehangatan yang jelas tergambar dalam hubungan persahabatan yang telah mereka bina sejak masuk di SMA Tunas Bangsa ini. Ditambah lagi dua orang sahabat lainnya yang sama-sama menjalin kedekatan serupa.
Lany, gadis yang punya kharisma seorang pemimpin dan pandai bersilat lidah. Eitss…., bukan pintar membalikkan fakta lho. Tapi gadis satu ini paling bisa memainkan lidah untuk berbicara di muka umum. Sebagai bukti, jabatan ketua OSIS telah dipegangnya sekarang. Ada pula Nina, dengan gaya manja mempesona bertabur ide-ide cemerlang yang pastinya membuat orang akan berdecak kagum padanya. Tak lupa Arsya, dengan sisi kedewasaan yang dimilikinya serta mampu menampung aspirasi dan menyatukan mereka berempat dalam satu hubungan persahabatan yang berdiri kokoh. Wah, bukannya itu tugas wakil rakyat ya???
Memang tak selamanya mereka sependapat, ada kalanya mereka berseberangan sisi dalam beberapa hal. Tapi semua itu tak menjadi duri dalam persahabatan mereka. Biasanya keeempatnya akan membicarakan hal-hal tersebut dalam suatu waktu. Pada akhirnya masalah akan terselesaikan dengan sendirinya.
Teet..teet…teettt….
Bel masuk kelas telah berbunyi. Murid SMA Tunas Bangsa berhamburan menuju kelasnya masing-masing. Segudang alasan membuat mereka ingin segera sampai di pintu kelas. Dari tak ingin menjadi bulan-bulanan Guru Piket yang akan memberi hukuman bagi siswa yang tidak disiplin mematuhi peratuaran, seperti mengepel atau menyapu lantai hingga hormat di depan tiang bendera. Tak mau menjadi bahan tertawaan anak-anak satu sekolah memakai papan nama bertuliskan hal-hal yang memalukan. Dan tak ingin berurusan dengan Pak Joe, guru pengajar BK yang tersohor dengan aksi killer-nya di kelas dan mempunyai perawakan paling seram di antara guru-guru lainnya. Kumis setebal Pak Raden dilengkapi sorot mata tajam layaknya mata elang yang siap menerkam mangsanya semakin membuat ngeri siapapun yang berpapasan dengannya. Walaupun sebenarnya Pak Joe, atau lengkapnya Pak Joenardi, ini memiliki hati selembut salju. Hehe…
Pernah ada seorang murid laki-laki membolos saat jam pelajaran berlangsung. Ia pergi melompat pagar sekolah dan menuju warnet (warung internet) yang terletak sekitar 3 kilometer dari sekolah. Hasilnya, Pak Joe menyusul sang penjahat kesiangan itu ke tempat kejadian perkara yakni ke warnet. Sang murid yang kelewat berani itu akhirnya diciduk dan dibawa ke ruang BK. Di sana ia diinterogasi oleh Pak Joe, seperti polisi yang coba mengorek keterangan saat menangkap pelaku kejahatan, selanjutnya murid bandel ini melalui tahap persidangan di ruangan tersebut dan diadili seadil-adilnya. Keputusan akhir menetapkan bahwa ia bersalah dan diskors selama 3 hari dilarang masuk kelas dan mendapat tugas khusus dari guru bidang studi yang tidak diikutinya. Belum persepsi negatif sebagai konsekuensi tambahan dari teman-teman sekolahnya nanti. Intinya, hukuman yang akan ditanggung jika tidak mematuhi peraturan sangat sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan. Sehingga tidak mengherankan bahwa sekolah ini terakreditasi A dan berstandar internasional pula.
Pelajaran pun dimulai. Guru menjelaskan di depan kelas, sementara murid mencatatat dan mengerjakan tugas. Beberapa bertanya mengenai hal-hal yang kurang atau tidak dimengerti. Biasanya, Rea sangat aktif untuk kegiatan tanya jawab seperti ini. Tak tahu mengapa, hari ini ia lebih sering diam dan tak bersemangat mengikuti pelajaran.
“Tumben Re, elo diem aja?” Lany bertanya pada sahabatnya ini.
“Masa sih? Kayaknya biasa aja deh. Tapi emang hari ini gue lagi bad mood” Rea menjawab ogah-ogahan dan terkesan cuek bebek.
“Oh, gitu…” timpal Lany singkat, berusaha mengerti suasana hati Rea yang sedang tidak bersahabat.
Tak hanya Rea yang merasakan kejenuhan, Bram, si Tukang Tidur, yang duduk di sudut paling belakang malah tengah terlelap. Bahkan mungkin sedang tenggelam di alam bawah sadarnya. Untungnya Nicko, si Gendut, murid yang mempunyai berat badan nomor wahid di kelas, duduk di depannya. Jadi, tubuh Bram yang kecil tak akan terlihat dari kursi guru di depan kelas. Untuk yang satu ini Nicko cukup berguna sebagai penyelamat Bram. Lain halnya Cessa, murid paling modis dan gaul di kelas Rea, justru asyik dengan alat-alat kecantikan yang dibawanya ke sekolah. Membedaki wajahnya dan mengoleskan lip gloss di bibir mungilnya. Untuk sentuhan terakhir ia menggunakan penebal alis. Kalau ditinjau lebih dalam, ia sudah diperingatkan berulang kali soal kebiasaannya ini, tapi tak pernah dihiraukannya. Untuk urusan menghindar dan mengelak, ia memang jagonya. Beribu alasan ini itu dipakai sebagai pertahanan diri. Uniknya beberapa Bapak/Ibu guru percaya dan akhirnya memaklumi tindakan Cessa. Beberapa siswa lain sibuk bermain HP. Yah, meskipun harus kucing-kucingan dengan guru yang sedang mengajar. Nyatanya mereka tetap saja pandai memainkan peran seolah memperhatikan materi pelajaran. Jadi, guru pun tak akan curiga. Namanya juga anak muda, punya banyak akal bulus untuk mengelabui orang lain.
Di sudut ruang kelas, Levy, siswa teladan yang juga punya kemampuan otak di atas rata-rata, tak ubahnya dengan anak-anak kelas yang lain. Ia malah memainkan pulpen di tangannya. Padahal tak biasanya ia bertingkah seperti itu. Pandangan matanya fokus pada pulpen dan tak bergeming meskipun dipanggil oleh Raka, teman sebelahnya. Di saat yang sama Dony asyik ngobrol dengan Raka, mereka pun terlibat percakapan yang seru. Diam-diam Bu Nunik, guru Matematika yang sedang menjelaskan materi, tiba-tiba mengambil kuda-kuda bersiap memberi hadiah penghapus cantik berlumur tinta plus sebuah spidol mungil yang diarahkan ke wajah Dony. Dony yang tanpa persiapan sebelumnya tak mampu menahan serangan mendadak dari sang ibu guru tercinta. Dony memang dikenal sebagai anak paling usil dan bandel di kelas. Maka kali ini tak ada ampun lagi baginya. Penghapus melesat cepat di udara, lalu…
Plakk… bukk… Wajah imut Dony menjadi seperti Mama Loreng. Pipinya terkena tinta dari penghapus lemparan Bu Nunik. Meninggalkan bekas yang cukup indah dipandang mata berbentuk kotak persegi panjang. Seratus. Poin sempurna untuk Bu Guru yang lemparannya tepat mengenai sasaran. Applause untuk Bu Nunik. “Hore...” pikir Rea sekenanya, tak bermaksud tertawa di atas penderitaan Dony yang sekarang seolah tersadar oleh lemparan hebat Bu Nunik. Raka, Bram, Cessa, dan Levy pun ikutan tersentak kaget. Termasuk seisi kelas yang tadinya tenang, tenteram dan hidup damai sejahtera seketika menjadi riuh. Mereka lupa dengan kesibukannya masing-masing dan beralih memandang Dony. Wajah Dony memerah, dapat ditebak betapa malunya ia berada dalam posisi itu karena semua mata tertuju padanya kini. Sebagian siswa senyam-senyum menahan tawa, sebagian lagi cekikikan geli. Beberapa malah bengong tak mengerti drama yang baru saja terjadi. Ada yang berbisik-bisik mengomentari kejadian itu. Rea menoleh ke belakang. Melihat Dony yang sedang pasrah. Rea sempat memperhatikan Levy. Ia tak menunjukkan ekspresi apapun. Dingin dan beku seperti es. Rea menghela napas. Pikirannya melayang. Sementara anak-anak lain masih terfokus pada Dony.
“DONY…!!! Sedang apa kamu? Ngobrol saat jam pelajaran, pasti kamu tidak memperhatikan!! Barapa kali ibu harus peringatkan kamu?!” kata Bu Nunik dengan nada tinggi. Suasana kelas jadi hening. Semua murid serempak tutup mulut. Memang jarang guru Matematika ini marah, sekali ini sepertinya tidak ada toleransi lagi. Raut wajahnya garang. Tampaknya batas kesabaran Bu Nunik telah habis.
“Ma...maaf Bu,” hanya kata-kata itu yang meluncur dari bibir Dony. Terbata-bata ia meminta maaf atas tindakannya itu. Ia menundukkan kepala tak kuasa memandang wajah Bu Nunik. Apakah ia merasa bersalah? Mungkin.
“Kamu silahkan keluar kelas dan berdiri di depan pintu hingga pelajaran usai.” kata beliau selanjutnya. Kemarahan Bu Nunik agak mereda. Ia mengatur napas agar stabil. Dony menurut, ia berjalan keluar kelas. Pelajaran dilanjutkan kembali tanpa Dony di kelas.
* * *
Mentari bersinar terik. Huhh, panasnya… Rea berjalan menuju gerbang sekolah. Ia mengenakan jaket jeans biru. Cukup melindungi dirinya dari panas matahari. Lalu duduklah gadis ini di taman samping gerbang sekolah. Awalnya banyak siswa SMU Tunas Bangsa berjejal segera pulang. Lama-kelamaan siswa lainnya berangsur tak kelihatan. Sebagian pulang ke rumah termasuk Lany, Nina dan Arsya juga telah duluan pergi. Mereka ada acara sepulang sekolah, katanya. Tinggallah Rea sendirian, menunggu taksi langgananya datang. Tak biasanya taksi itu datang terlambat. Diamatinya keadaan sekitar taman, tak nampak seorang pun di sana. Mungkin Rea adalah orang terakhir yang masih berada di sekolah, sebelum dilihatnya seorang siswa laki-laki datang ke arahnya. Ia menghampiri Rea.
Dari kejauhan dapat dipastikan itu adalah Levy. Levy???? Dalam hati, ia seakan tak percaya. Rea diam saja berpura-pura tak mengetahui kedatangan Levy. Beberapa saat kemudian Levy telah sampai di hadapannya. Rea bingung harus berbuat apa. Ia hanya bisa tersenyum kecut. Agak dipaksakan. Levy membalasnya dengan senyuman paling manis dan menawan yang pernah dilihatnya. Entah mengapa jantung Rea berdegup kencang. Rea tak mampu berkata-kata. Mulutnya terkunci rapat. Ia membisu. Menangkap rasa gugup Rea, Levy pun memulai pembicaraan.
“Hai, Re… Boleh duduk?” kata Levy halus.
“Eh, .. iya.. iya silahkan,” Rea kikuk. Salah tingkah.
“Masih nunggu taksi ya?” tanyanya kemudian.
“Iya,” jawab Rea singkat.
Levy menatap Rea dalam-dalam. Matanya berbinar, menyimpan sejuta harapan dan kasih sayang. Suasana yang tak pernah Rea bayangkan sebelumnya. Baru kali ini ia melihat Levy mengekspresikan sesuatu. Sepengetahuan Rea, ini pertama kalinya Levy berbicara lepas pada orang lain. Apalagi padanya, bahkan di kelas pun mereka jarang bertegur sapa satu sama lain. Saat ini Rea merasakan kehangatan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Ia merasa sangat nyaman berada di samping Levy.
“Re, gue mau ngomong sesuatu sama elo” Levy bersungguh-sungguh.
“A... apa, Lev?” tanya Rea penasaran, suaranya sedikit bergetar.
Levy meraih tangan Rea. Ia menggenggamnya erat. Ada sesuatu yang lain di antara mereka. Jantung Rea semakin berdetak cepat. Rea menahan semua perasaan aneh yang muncul di dadanya. Buru-buru dibuangnya jauh-jauh. Pipi Rea terasa panas. “Apa sih maunya nih anak?” tanya Rea dalam hati.
“Gue pengen elo tahu kalo gue… kalo gue…” Levy menghentikan kata-katanya. Ia menghela napas panjang, mengumpulkan keyakinan.
“Gue sayang elo, Re. Gue cinta sama loe.. “Levy meneruskan kalimat yang dipotongnya tadi.
Degg… Rea shock. Jantung Rea berhenti sejenak. Dadanya terasa sesak, seakan batu berton-ton beratnya menghimpit tubuh mungilnya. Ia gemetaran. Rea tak menyangka Levy akan berkata seperti itu padanya. Angin berhembus lembut menyapa keduanya. Dedaunan berguguran. Sejuk dan hening. Memojokkan Rea agar sesegera mungkin membuka mulut.
“Lev, gue nggak ngerti. Maksud loe apa??” Rea bingung.
“Re… gue pengen jujur sama elo. Gue udah suka sama elo sejak kita masuk SMA. Awalnya gue cuma simpatik sama loe, tapi lama-kelamaan gue nggak bisa bohongin hati gue ndiri lok gue sayang elo Re. Gue cinta sama loe. Maaf selama ini sikap gue dingin ke elo. Gue takut loe marah. Gue bingung gimana gue harus ngasih tau elo semua ini. Gue udah capek, gue nggak tahan memendam perasaan ini ke elo. Sebenarnya gue selalu perhatiin loe di sekolah. Saat elo di kelas, di kantin, di lapangan, atau di manapun elo berada. Gue seneng Re ngeliat loe ketawa, bercanda sama temen-temen loe. Gue bahagia meskipun cuma ngeliat elo dari jauh.” Levy menjelaskan panjang lebar. Rea hanya menjadi pendengar setia. Matanya mulai berkaca-kaca. Levy melepaskan genggamannya. Ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak kecil berwarna orange berpita merah disodorkannya pada Rea. Rea diam tanpa kata. Tak terbesit di pikirannya sedikit pun, kejadian siang itu.
“Re… gue cuma pengen elo tahu semua itu. Gue ngasih ini biar loe selalu inget sama gue. Loe mau terima kan? “ sahut Levy kemudian. Tangan Levy memegang tangan Rea dengan lembut, diberikannya kotak itu.
“Re, loe buka ya…” ucapnya setengah memohon. Perasaan Rea semakin tak menentu. Ia mantapkan hati tuk menerima pemberian Levy. Dibukanya kotak itu. Ia gemetar. Sebuah gelang berwarna putih tersimpan indah di dalamnya. Levy mengambil gelang itu. Dipasangkannya di tangan kanan Rea. Rea menurut.
“Re… gimana perasaan elo ke gue?”
Rea bungkam. Levy menunggu kata-kata Rea. Beberapa menit berlalu, Rea belum juga menjawab pertanyaan Levy. Levy coba bersabar. Dari air mukanya ia sedang gelisah. Hatinya bergejolak menunggu jawaban Rea.
“Lev, gue … gue juga sayang sama elo” suara Rea memecah keheningan. Meskipun tanpa disadarinya ia menitikkan air mata haru.
Levy memeluk Rea. Erat. Rea pasrah, ia pun tak dapat mengelak atas kenyataan yang ada. Ia juga menyayangi Levy. Meskipun ia tak pernah memberitahu siapapun tentang perasaannya itu. Rea pun mengagumi sosok misterius Levy. Levy yang selalu bersikap dingin, tak banyak bicara dan tak pernah diketahui isi hatinya. Dan menyimpan sejuta tanya tak terjawab yang selama ini menghantui waktu-waktu Rea. Ada sesuatu dari sosok Levy yang telah menjerat hati Rea.
Rea masih tak percaya apa yang baru saja ia alami. Kadang aneh tuk mengenang semua ini. Seperti mimpi. Sekejap mata namun penuh arti. Sedetik waktu tapi tetap misteri. Apa ini cuma mimpi? Kalaupun mimpi Rea tak ingin segera terjaga…
# # #
Komentar
Posting Komentar